Home

Mendidik dengan Marah, Masih Efektif Nggak?

January 22, 2010

Hari ini deadline teamku untuk nyerahin appraisal form 2009 ke Big Boss.  Staffku udah submit ke aku juga, jadi aku berusaha mengingat-ngingat apa aja plus minus dia selama ini.  Itu juga membuat aku mengingat-ngingat kerjaanku sendiri, dan sampai pada titik ingatan dimana aku sangat kesal akhir2 ini karena ada orang2 di tim yg bekerja sekehendak hati, dan akhirnya mengganggu performance yang lain.

Tiba2 aku juga jadi teringat obrolan antar staf, yg salah satunya gini :

Si tukang onar : Gue kesel deh, kenapa si gue selalu dimarahin terus?

Temennya : Lahh.. kan emang loe udah jelas salah, ya wajar lah kalo orang kesel sama loe

Si tukang onar : Ya tapi ngga usah marah-marah dong…

Temennya : Emangnya loe ngga pernah dimarahin sama bapak loe apa kalo salah atau loe bandel? **nada becanda**

Si tukang onar : Nggak lah, mana berani Bapak gue marahin gue **nada serius**

Aku : !@#%%*!@#%$%  **mikir**

Hufff.. terus terang aku juga bukan tipe orang yang suka dimarahin, apalagi kalo nggak salah2 amat.  heeyy.. people do mistakes.  Tapi kalau aku dimarahin karena memang salah, aku akan berbesar hati menerimanya.  Aku anggap ibadah karena menampung luapan emosi orang yg kesal dengan kesalahanku.

Yang banyak terjadi di sekitarku, banyak anak yang -menurutku- manja.  Nggak mau berusaha keras, mudah menyerah, ngga bisa terima kritik, dan ngga mau disalahin walaupun memang salah.  Mayoritas staff-staff yg umurnya 20-23 tahun.

Obrolan yang aku kutip tadi ngingetin aku tentang Bapak, dimana beliau pernah marah besar gara-gara aku pulang malam masih pake seragam sekolah, padahal aku sekolah pagi.  Ya, aku pernah dimarahin Bapak, dan sering dimarahin Mama pastinya 😛  Tapi setelah aku besar dan dikelilingi anak-anak manja yang ngga pernah dimarahin ortunya, aku jadi sadar bahwa dimarahin untuk sebuah kesalahan itu juga perlu!

Bertentangan dengan teori psikologi yang sering dibahas di artikel **nggak tau ada jurnalnya apa nggak** yang bilang bahwa didiklah anak tanpa marah, menurutku malah marah itu penting.  Membuat anak itu tahan banting, berlapang dada menerima kritik, dan tau konsekuensi atas kesalahannya.

Kalau anak nggak pernah dimarahin, dia akan sulit memahami bahwa kesalahannya mengesalkan orang lain.  Dia juga jadi susah menerima kritik, karena selama ini semua kesalahannya dibiarkan begitu saja.  Ada beberapa masalah yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan berbicara dari hati ke hati.

Yang sangat penting adalah : marahlah dengan bijak, bukan untuk membuat orang sakit hati tapi untuk mendidik jadi orang yang lebih baik…

Advertisements

One Response to “Mendidik dengan Marah, Masih Efektif Nggak?”

  1. ridho Says:

    Setujuhhh…kadang2 ada orang yang baru mengerti dia berbuat salah itu kalo ditegur dengan keras aka marah…tapi yang susahnya itu adalah marah yang bijak, btw ada kursusnya gak ya? aku mau ikuttttt


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: