Home

Life for Struggle not Struggle for Life

February 4, 2010

Aku dengar kata-kata itu dari guru matematikaku waktu SMP. Kata2 yang selalu kita jadikan bahan tertawaan, tapi selalu terngiang-ngiang di pikiranku.

Aku merasa hidupku penuh dengan perjuangan, walaupun buat sebagian orang lain mungkin mengira hidupku sangat enak. Waktu sekolah dulu, yang pernah ngetrend di jamanku antara lain sepatu Doc Mart, sepatu Nike Air, Pager, handphone, mesin tik listrik buat mempermudah ngetik tugas, nonton konser NKOTB, dll. Apa yang aku dapat? none of them!

Selama sekolah dan kuliah, aku selalu berjuang biar nilaiku tetap bagus disaat aku sering nggak hadir di kelas karena terlalu sibuk di kegiatan ekstra kurikuler. Berjuang titip absen dan fotokopi catetan maksudnya 😛 dan berjuang sangat keras supaya aku nggak disuruh ortu untuk dropped one of my activity 😛

Aku punya handphone untuk pertama kalinya pas udah kuliah, dari tabungan. Nangis bombay pas HPnya digondol orang, untungnya ortu mau mensubsidi beli HP baru karena memang di kos ku ngga ada telpon.

Aku pernah makan indomie satu berdua, dan cuma makan sehari sekali itu aja. Walopun tampaknya aku suka ke cafe, tapi itu hasil menabung seminggu makan di kantin mur-mer, atau ya makan sepiring berdua 😛

Sampai tahun ketiga kuliah, aku ngetik paper selalu di rental karena ngga punya komputer pribadi. Rela ke warnet ato rental malem-malem karna lebih murah. Di tahun ke-empat aku punya komputer : beli dari Bapak hasil bobok tabungan 😛

Belum lulus kuliah, aku udah mulai ditempa sama kerasnya hidup di Jakarta. Gaji cuma 1,7juta, dipotong sama agent pula. Harus lari-lari ngejar kereta tiap hari karena jadwal yang mepet sama jam pulang kantor. Sering dipanggil bos, bukan karna disayang tapi buat dimarahin karna salah melulu.

Setelah lulus, pindah tempat kerja, aku memulainya dari tukang fotokopi, tukang filing, sampe tukang ngangkutin kardus. Abis itu jadi kuncen kantor yang akrab sama supir taksi saking seringnya pulang pagi.

Tapi sekarang-sekarang ini aku sadar, aku bahagia ngejalanin semua kesulitan karena aku hidup memang untuk berjuang. Aku selalu punya (atau membuat) pilihan dalam hidup, jadi aku hidup untuk memperjuangkan pilihanku. LIFE FOR STRUGGLE.

Sebaliknya, kalau berjuang untuk hidup, aku nggak bakal bahagia. Contohnya waktu aku kerja di tempat yang memaksaku untuk lembur sampai pagi setiap hari selama lebih dari setahun. Setelah beberapa bulan, aku merasa tertekan dan jauh dari bahagia, ya karena saat itu aku hanya berjuang untuk tetap bisa survive ngejalanin hari demi hari. I STRUGGLED FOR LIFE sampai akhirnya aku membuat pilihan untuk membalik keadaan.

Same words but huge different in meanings. Thanks to Bu Ani who told me those magic words for more than five times in every two-hours-a day-five-times-a week class. When I trapped in a struggle-for-life situation, I wish I always had choices to turn back into LIFE FOR STRUGGLE

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: