Home

Culture & Technology Shock in Japan

November 27, 2010

Kalau dengar nama negara Jepang, pasti kita merasa senang dan sedih.. Senang karena banyak teknologi modern yang muncul dari negara besar di Asia, sedih karena kita pernah dijajah Jepang selama 3,5 tahun.  Tapi biar bagaimanapun, Jepang adalah salah satu negara yang menarik untuk dikunjungi karena dibalik kemodernannya, ada kesahajaan yang mengakar pada tradisinya yang selalu dipegang teguh oleh warganya.

Aku ke Jepang dalam rangka menghadiri AIESEC conference di salah satu hotel di Narita.  Berhubung saat itu adalah pengalaman pertamaku ke luar negeri sendirian, jadilah banyak pengalaman norak bin ajaib yang aku alami.  Culture shock sudah pasti, kemanapun gue pergi pasti akan ada pengalaman tentang itu.  Dan diperjalanan ke Jepang ini, paket combo culture shock dan technology shock membuat gue ketawa saat mengingatnya.

Dimulai dari hal standar #1 : membiasakan diri dengan perbedaan waktu.  Pesawat gue saat itu transit di Hong Kong, yang notabene ada perbedaan waktu 1 jam dengan Jakarta, sama seperti Tokyo.  Hanya 1 jam, tapi berhasil membuat gue lari-lari menuju gate yang ada di paling ujung selama 10 menit, dan jadi penumpang terakhir yang masuk ke pesawat setelah memohon-mohon pada ground crew karena pintu baru saja ditutup di depan mataku.

Hal standar #2 adalah kesalahan kemampuan spasial.  Aku nggak sadar bahwa arrival hall Narita itu luas, ada dua sisi, dan mirip satu sama lainnya.  Jadi saat aku diminta untuk menunggu di sebuah sisi oleh teman yang menjemput, dengan pedenya aku jalan-jalan keliling airport karena yakin akan mudah menemukan meeting point.  Long story short, aku menunggu di sisi yang salah dan membuat semua orang panik karena dikira aku hilang, termasuk diriku sendiri yang mengira temanku meninggalkanku 😐

Kalau untuk pengalaman Culture Shock #1 di Jepang adalah saat harus menuju hostel di Tokyo.  Saat itu sudah hampir tengah malam, kita baru saja sampai setelah perjalanan panjang, dengan koper2 dengan berat sekitar 14kg.  Dari Narita aku dan Dinda dijemput Ono, teman Jepang kami untuk naik kereta ke hotel.  Kami berdua tertatih-tatih mendorong koper dan memanggul ransel mengikuti Ono yang jalan dengan kecepatan standar orang Jepang, sambil menggotong koper  saat turun tangga karena eskalatornya sudah tidak difungsikan dan jarak dari stasiun ke hotel sekitar 500 m.  Ono sama sekali nggak membantu (padahal dia nggak nenteng apapun) dan tidak ada belas kasihan pula melihat kami yang napasnya serasa hampir putus.  Ya, orang Jepang memang mandiri, dan perlakuan laki-laki kepada perempuannya seringkali menimbulkan kontroversi.

Culture Shock #2 terjadi saat aku menuju Kyoto dari bus pool di Shinjuku.  Kami naik bis malam, yang ternyata melarang kami berbicara walaupun berbisik-bisik setelah lampu di dalam bus dimatikan.  Kalau nekat melanggar, kami bisa kena denda.  Maksudnya sih baik, supaya semua penumpang bisa istirahat.  Tapiii… biasanya aku kalau ke Solo naik bus malam bisa bercanda dengan adik-adikku sampai lewat tengah malam looohhh…

Sesampainya di Kyoto, untuk pertama kalinya aku kenalan sama yang namanya luggage locker.  Tinggal masukkan koin, koper kamipun aman saat kami tinggal jalan-jalan.  Di kemudian hari, luggage locker ini jadi andalan gue saat harus transit selama beberapa jam atau tidak mau mengeluarkan uang untuk late check-in atau late check out di hotel 🙂

Ternyata kami diinapkan di salah satu ryokan di Kyoto ini, dan akupun mengalami Culture Shock #3. Ryokannya tentu yang sesuai dengan kantong mahasiswa ya.. Tanpa halaman, cuma 4 lantai dalam 1 bangunan besar.  Setelah semingguan tinggal di hotel seperti yang biasa kita kenal, gue menemukan sebuah kamar luas beralaskan tatami.  Ruangan luas sebenarnya adalah hal yang sulit ditemui di Jepang, tapi begitu tahu kami ber-12 (perempuan) harus tidur sekamar, aku heran.  Nggak ada tempat tidurnyaaa…. Apakah kami harus tidur beralaskan tatami?

Ternyata dari lemari yang ada di pojokan kamar, petugasnya mengeluarkan futon 🙂 Aku kira tidur di futon ala Oshin itu seperti tidur di dalam sleeping bag.  Ternyata empuuukkkk… Ya nggak seempuk tidur di spring bed sih, tapi lebih nyaman daripada kasur busa.

Keesokan paginya gue langsung menghadapi Culture Shock #4 saat mau mandi.  Toilet di lantai 2 tempatku tidur hanya punya kloset dan wastafel, nggak bisa dipakai mandi.  Akhirnya aku turunlah ke -aku kira- public bathroom.  Ternyata itu onsen! Ada 8 shower berderet tanpa pembatas, 4 di sisi kiri dan 4 di sisi kiri, tapi showernya cuma setinggi pinggang.  Ada semacam bangku kecil di depan setiap shower.  Dan ada cermin di sepanjang sisinya.  Haa?? Gimana cara mandinyaa? Di ujungnya ada 1 bak air panas dengan ukuran sekitar 3x3m.

First thing first.  Karena di dalam onsen nggak ada tempat menggantung handuk, itu berarti semua baju kering dan handuk besar harus ditaruh di loker di luar.  Akhirnya aku tau kita cuma bisa bawa 1 handuk kecil tipis yang cuma bisa nutup salah satu daerah paling privat saja.  Mandinya gimana? Ya sambil duduk di bangku kecil itu! Aku nggak berani lihat cermin di depanku karena itu juga berarti aku bisa melihat orang lain.  Dan selesai mandi, berendamlah di bak air panas untuk menyegarkan badan.. Oh ya, untungnya onsen dipisah buat laki-laki dan perempuan.  Kalau dicampur, mungkin aku pilih 3 hari nggak mandi hehehehehe….

Siangnya aku diajak makan siang ke salah satu warung makan di area Arashiyama, dan dikomporin untuk makan mie dingin a.k.a cold soba karena enak sekali dimakan saat summer seperti pada waktu itu.  Hmm..dalam otakku, mie itu ya disajikan panas-panas.  Tapi akhirnya aku coba juga.  Surprisingly, enak! I can handle this Culture Shock #5. Tapi saat aku coba cold soba yang ada di Indonesia sini, rasanya kok aneh ya?

Masih ada cerita culture shock lain seperti saat menikmati traditional breakfast dan hobinya orang Jepang, tapi aku mau ceritakan juga beberapa technology shock yang aku alami.

Technology Shock #1 muncul saat aku untuk pertama kalinya menggunakan Apple MacIntosh.  Mousenya tidak seperti yang aku kenal! Internet browsernya juga bukan internet explorer.. Tapi karena terpaksa harus menggunakannya demi bisa menghubungi CPku selama di Jepang, yang mana detailnya ada di emailku, terpaksalah pelan-pelan aku coba menggunakannya.  Perlu dicatat, gue pergi tahun 2002 disaat Starbucks aja baru ada 1 di Indonesia, baru buka di Thamrin, dan orang Indonesia yang udah kenal dengan blog masih bisa dihitung dengan jari.

Malam pertama saat tidur di hostel, aku langsung bingung kenapa TVnya dikerangkeng dan ada coin slot seperti di tempat bermain semacam fun city.  Technology Shock #2.  Ternyataaa.. di hostel kalau mau nonton TV memang harus bayar! Dan TVnya memang sudah di desain sebagai TV yang baru nyala kalau sudah ada koin yang dimasukkan.

Keesokan harinya, setelah kejadian salah menunggu di arrival hall, aku menuju hotel tempat conference berlangsung.  Karena antrian check-in masih panjang sedangkan aku sangat ingin pipis, aku langsung menuju rest room.  Saat itu Plaza Senayan baru mengganti keran di toilet menjadi keran dengan sensor untuk kontrol buka-tutupnya, jadi saat menemukan hal yang sama kemarin di bandara aku nggak heran.  Tapi di toilet yang ini aku bengong dulu beberapa saat karena Technology Shock #3.  Ada 5 buah tombol di samping kloset! Selama ini aku cuma tahu kloset punya 1 tombol untuk flush, akhirnya mau tidak mau aku coba pencet tombolnya satu-satu karena keterangannya ditulis dalam aksara Jepang, entah hiragana atau katakana, tapi aku tahu pasti itu bukan kanji.  Pada akhirnya aku sadar, seharusnya sebelum pipis tadi aku pencet tombol 1 dulu untuk mengeluarkan kertas pelapis dudukan toiletnya, kemudian tombol yang mengeluarkan air untuk membasuh bagian privat, dilanjutkan dengan tombol yang mengeluarkan udara hangat untuk mengeringkan bagian yang tadi dibasahi.  Terakhir tombol penggelontor air (flush).  Tombol satu lagi aku lupa fungsinya untuk apa..

Di tahun 2002, fakultas tempat aku kuliah cuma punya satu proyektor (infocus) yang selalu jadi rebutan dosen dan mahasiswa, harus bayar pula kalau mau pinjam.  Saat pembukaan acara berlangsung, panitia sungguh-sungguh meminta maaf kepada peserta karena hasil proyeksi dari laptop tidak terlalu jelas, padahal hasilnya jauh lebih jelas dibandingkan dengan hasil proyeksi dengan overhead projector (OHP).  Menurut mereka, hal ini terjadi karena usia proyektor sudah lebih dari 10 tahun! Oh my.. Technology Shock #4. Sepuluh tahun lalu kampusku masih pake papan tulis kapur kali yaaa…..

Saat tiba waktunya kita foto-foto, aku habis ditertawakan teman-teman dari negara lain.  Technology Shock #5 terjadi hanya karena aku masih menggunakan kamera dengan film, bukan kamera digital.  Saat itu kamera digital baru mulai dikenal di Indonesia, dengan kemampuan maksimum hanya 1 megapixels.  Harganya juga masih mahal sehingga aku masih belum mampu beli.  Teman-teman Jepangku sudah mengenal kamera digital minimal 3MP! Oh well, aku nampak berasal dari negara terbelakang.

Ada cerita standar juga yang muncul karena ketidaktahuanku mengenai huruf kanji.  Saat sedang menunggu bus malam di stasiun Shinjuku dengan perut kosong, aku dan teman-teman melihat penjual mie dengan gerobaknya.  Semacam penjual mie ayam gerobakan disini lah… Mata kami langsung berbinar-binar melihat harga yang tercantum adalah 300 yen saja, dan langsung kami makan bareng-bareng.  Pada saat membayar, kami semua bingung karena abang mienya marah-marah.  Ternyata kami kurang bayar! 300 yen adalah harga sake, mienya sendiri 600 yen saja.. Ya ampuun.. lebih mahal dari McD!

Perjalanan pertamaku keluar negeri memang penuh warna, banyak kejadian yang bikin aku senyum saat teringat lagi 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: