Home

Deeja di Tanah Afrika

November 21, 2014

tunis.jpgSekalinya pergi jauh, Deeja sampainya ke Afrika.  Tepatnya di Tunis, ibukotanya Tunisia, tempat ayahnya Deeja kerja.  Alhamdulillah selama 16 jam terbang Deeja kooperatif, sudah seminggu lebih disini juga malah makin pinter.

Untuk masalah adaptasi dengan waktu, Deeja sempat jetlag juga sih. Malam pertama kedatangan, Deeja bangun jam 12 malam (6 pagi WIB) dan nggak bisa tidur sampai jam 3 pagi.  Malam kedua deeja dibangunkan paksa jam 6 sore dan baru tidur lagi jam 7, hasilnya terbangun jam 3 pagi dan hanya ngajak main sejam.  Malam berikutnya, jadwal tidur sudah kembali normal.

Untuk adaptasi dengan cuaca, alhamdulillah Deeja nggak ada masalah. Cuaca disini memang masih sejuk, belum masuk winter.  Suhu masih disekitar 13-23’C, jadi cukup pakai 2 lapis baju plus jaket.  Kecuali kalau sedang berangin, barulah ditambah jaket windbreaker.

Untuk adaptasi dengan makanan, alhamdulillah Deeja mudah sekali.  Makanan apa saja mau.  Dari bahan yang sudah biasa seperti terong, zucchini, salmon, sampai yang baru makan disini seperti hummus, couscous, zaitun, baguette, brika, ojja, sorghum, aneka keju, sea bass, sea bream, tagliatelle, farfalle, ah pokoknya mau moroccan, tunisian, italian, atau french food Deeja makan.  Apalagi jajanan bambaloni, semacam cronut bertabur gula pasir.  Kalau nggak dibatasi, bisa habis banyak mungkin.  Tapi ada sih makanan yang Deeja lepeh alias nggak doyan : burdeem alias kambing yang dimasak dalam tanah.  Padahal dagingnya lembuuutttt banget sampai mirip daging sapi, dan nggak ada bau prengus aama sekali.  Yahh.. kapan-kapan coba makan kambing lagi ya, Deeja 😉

Untuk gegar budaya, nampaknya Deeja juga nggak ada masalah.  Mau disapa sama orang Tunisia yang berbahasa Prancis atau Arab, Deeja kelihatan nyambung aja.  Malah ibunya yang suka nggak ngerti.  Mau beli makanan aja bingung, nggak ngerti apa yang harus dibeli.  Sedangkan orang yang bisa bahasa Inggris cukup jarang disini.

Deeja sudah dikenal oleh banyak sekali petugas hotel.  Setiap sesi jemur pagi atau main sore, pasti ada aja yang memanggil : Khadeeja, dengan logat khas.  Dari mulai petugas housekeeping, supir, sampai tamu hotel pasti berusaha menarik perhatian Deeja.  Setelah lebih dari seminggu kenal, Deeja bahkan akhirnya mau dititah satpam!

Sepertinya semua orang Tunisia suka bayi, karena kemanapun kami pergi, pasti ada saja yang memanggil, mendatangi, jawil-jawil, bahkan mencium.  Dan itu nggak hanya 2-3 orang tapi banyak!  Bahkan balita-balita juga ada yang suka mendatangi Deeja dan mencium-cium.  Entah karena mereka memang suka bayi, atau karena jarang ada bayi Asia di Tunisia.

Dari yang awalnya Deeja nggak suka dipegang orang, apalagi dicium, lama-lama  Deeja pasrah kalau ditowel-towel.  Kalau Deeja sedang rewel atau terlihat resah, orang-orang Tunisia dengan senang hati menghibur Deeja.  Tugas ibunya Deeja menjadi lebih ringan.  Cuma yang masih menggangguku sampai sekarang, mereka nggak peduli lagi sehat atau pilek, kalau mau cium ya cium aja.  😦  Hushh..hushh.. virus pergi jauh-jauh!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: