Home

Belajar Makan Sendiri

February 1, 2015

wpid-photogrid_1399615516006.jpgSepanjang perhatianku, Deeja sudah menunjukkan tanda-tanda siap makan sejak usia 5 bulan.  Tanda – tanda itu antara lain :

– Deeja menyusu langsung pada payudara, tidak kenal botol, dan jarang sekali disuapi ASI Perah.  Selama ini menyusu on demand, jadi Deeja sudah bisa mengenali rasa lapar dan kenyang. Tidak pernah sengaja saya jadwalkan menyusunya, tapi memang lama-lama terbentuk pola sendiri.
– Sudah bisa memegang benda kecil dengan 2 jari, jempol dan telunjuk. Mungkin karena sejak lahir tidak pernah dipakaikan sarung tangan, jadi motorik halusnya berkembang pesat.
– Sudah bisa memasukkan barang ke mulut dengan tepat sasaran. Nggak nyasar ke pipi, misalnya
– Kalau lagi menemani makan, maunya mengambil makanan kami
– Sudah mulai ada gag refleks. Barang yang masuk mulut pasti akan dikeluarkan lagi jika terlalu besar atau tidak bisa dikunyah

Aku tentu saja berusaha menunda pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) hingga 6 bulan sesuai saran WHO.  Tapi karena penasaran, kadang Deeja suka kubiarkan kalau mengambil potongan makanan dari piringku sepanjang itu kemauannya, bukan sengaja disuapi.  Jadi di usia 5,5 bulan, Deeja mulai mencicipi wortel, kentang, brokoli, roti, walaupun entah ada yang tertelan atau tidak.

wpid-makan-semangka.jpg.jpeg18 Mei  2014. Tibalah hari yang aku tunggu-tunggu.  Deeja mulai MPASI.  Aku mengikuti panduan WHO untuk makan dengan gizi seimbang, jadi sejak hari pertama Deeja tidak hanya makan buah atau sayur saja, dan tidak makan tepung gasol atau semacamnya. Tetap awalnya satu jenis makanan per sekali makan, tapi tidak diblender halus. Hanya dilumat manual dengan saringan dan sendok. Hasilnya, selama 2 minggu pertama Deeja tidak semangat makan.  Aku juga agak patah semangat, sudah capek-capek menyaring, Deeja hanya makan maksimal 5 sendok super mungil.

Setelah BBM ke dokter anaknya Deeja, aku disarankan untuk menerapkan baby led weaning (BLW).  Karena sudah tertarik sejak waktu masih hamil, aku iyakan saran beliau.  Aku tetap konsultasi lagi ke dr Ratih, konselor laktasi yang menerapkan BLW ke anaknya, karena masih ada beberapa hal yang membuatku ragu untuk penerapannya seperti :
– Deeja saat itu belum bisa duduk tegak.  Terbalik dengan perkembangan motorik halusnya, motorik kasar Deeja tidak terlalu cepat berkembang.
– Kecukupan gizi dengan makan sendiri. Aku tahu, pasti akan berantakan sekali, dan mungkin sedikit yang ditelan.  Aku juga khawatir dengan variasi makanan yang dibutuhkan.
– Menghadapi kemungkinan tersedak (choking). Aku tahu bahwa dengan bayi makan sendiri tanpa intervensi, selama bayi duduk tegak, tidak akan tersedak, paling kelolodan (gagging).  Tapi tetap saja terbersit kekhawatiran

wpid-20140619_060850_2.jpgSetelah percobaan pertama Deeja makan sendiri dengan ditemani oleh dr Ratih, aku langsung percaya diri.  Lagipula, aku yakin kalau aku memberi kepercayaan penuh pada Deeja, Deeja pasti bisa. Itu esensi menjadi orangtua menurut AstRiDhO. Sampai kapan kami mau terus menyuapi Deeja? Kami tidak mau Deeja terus ‘disuapi’ (dalam berbagai hal) hingga dewasa.  Jadi, bismillah, kami mau mulai memberi Deeja kepercayaan sejak bayi.

wpid-photogrid_1402410895772.jpgProsesnya lancar? Ya tentu tidak.  Gagging terjadi di awal-awal makan sendiri. Aku berusaha tetap tenang selama mendampingi, dan tidak cepat intervensi. Dalam seminggu, kemajuannya sangat terasa :
–  Dari yang awalnya gagging berkali-kali dalam sekali waktu makan, dalam seminggu sudah sangat jarang terjadi
–  Dari yang awalnya mulut Deeja maju mendekati meja untuk menggigit makanan, kemudian bisa mengangkat makanan untuk dimasukkan ke mulutnya, hingga mengunyah dengan baik sambil menggoyangkan kaki.  Santai! Padahal saat itu belum ada gigi yang tumbuh.
–  Dari yang awalnya lebih banyak main-main dengan makanan, hingga mulai banyak makanan yang masuk ke mulut, dan akhirnya remah makanan makin lama makin sedikit.

Di usia Deeja 9 bulan, kami pindah rumah. Karena sibuk mondar-mandir dan tidak selalu ada waktu untuk membiarkan Deeja makan sendiri dengan tenang di kursinya, Deeja mulai aku suapi.  Di usia itu Deeja sudah makan nasi seperti orang dewasa, hanya minim bumbu. Saking bisanya mengunyah dengan baik, makan bubur pun pasti dikunyah. Tapi Deeja malah tidak semangat makan.  Saat imunisasi di usia 1 tahun, beratnya turun 200gr dibandingkan 3 bulan sebelumnya.

wpid-20141107_075258_1.jpgAkhirnya aku meneguhkan hati untuk memulai lagi baby led weaning.  Tidak mudah untukku, karena selama 3 bulan disuapi, Deeja makannya rapi. Ada nasi jatuh saja bisa dijumput olehnya. Aku tidak pernah bebersih setelah Deeja makan, bahkan baju Deeja juga jarang kotor walaupun tidak memakai bib.  Jadi membayangkan bebersih sesudah makan, atau sedikitnya makanan yang masuk ke mulut kalau sedang tidak mood, membuatku mulas.

wpid-img_20140830_111041.jpgTapi aku teringat lagi esensi menjadi orang tua. Kalau tidak diberi kesempatan, kapan Deeja bisa maju?  Aku mengambil jalan tengah selama masa transisi. Deeja boleh makan sendiri, tapi tetap sambil disuapi terutama untuk nasi dan kuah.  Jadi aku tenang, Deeja (mudah-mudahan) senang.

Jadi sekarang Deeja bisa apa di usia 14 bulan?
– makan sendiri pakai tangan
– doyan hampir semua makanan. waktu pergi ke Tunis kemarin, hummus dan couscous pun dimakan.  Yang tidak doyan cuma kambing.
– selalu mengunyah makanan dengan baik, termasuk bubur ataupun steak daging.
– mengambil makanan sendiri kalau lapar. ini paling lucu sih
– melepeh tulang, duri, atau biji yang tidak sengaja terbawa di makanan
– snack favoritnya kismis! AstRiDhO paling gemas saat melihat Deeja menjumput kismis dan memakannya. Memasukkan koin ke lubang celengan juga bisa
– kalau minum sendiri, semakin sedikit yang tumpah

wpid-20150113_112518_1.jpgDeeja baru mulai dikenalkan juga dengan sendok dan garpu. Agak terlambat memang perkembangannya kalau dibandingkan dengan bayi lain yang full BLW sejak awal. Mudah-mudahan tidak lama lagi mau makan dari piring sendiri dengan sendok garpu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: